ROHINGYA
Ketika agama cinta
berubah menjadi cinta agama. Keharmonisan tergerus oleh hegemoni permusuhan.
Selain Tuhan tunggal. Tuhan yang lain tak ingin di“Ika”. Manusia yang inlander
terhadap Agama. Akan berubah menjadi Qabil Radikal lalu Anarkisme yang berujung
pada Sadisme.
Terdengarlah
dengan suara lantang. Pengungsi Rohingya menepi di Aceh setelah terombang
ambing mengikuti arah angin selama beberapa bulan. Mereka adalah korban dari
penyembahan agama yang di politisi. Mereka adalah korban dari genosida 969
bikhsu Ashin Wirathu. Sedih nadi jantung mendengar suara lantang itu.
Adakah streotipe di Islam
bisa diluruskan. Islam di streotipekan dengan sebutan Agama kekerasan atau
agama teroris yang mesti
di genosidakan. Dari setiap kelakuan dan kejadian kotor yang
dialamatkan dari agama Islam.
Hampir disemua
tempat. Hampir disemua budaya. Islam terkenal dengan streotipenya itu. Memang
kejadian Faktual-faktual tidak bisa dipungkiri semakin menyudutkan Islam. Di Irak dan Syriah kita saksikan ada
Isis dan Al qaeda. Di Nigeria ada Boko Haram. Di Somalia ada As shabab.
Namun Islam tak bisa di anak tirikan
sebagai agama satu-satunya yang radikal. Kejadian Rohingya memfaktualkan bahwa semua
agama memiliki radikal. Di Myanmar ada
kelompok Budha 969. Di Amerika ada kelompok fundamentalis radikal agama Kristen
seperti David Fores dan Tim Veigh. Di Jepang juga kelompok radikal Aum
Shinrikyo. Di Norwegia ada Andres Breivik. Maka kemudian kekerasan yang
berdalih agama jangan hanya digulirkan kepada satu agama saja. Dalam hal ini
Kristen ataupun Islam. Artinya Virus radikal yang sadisme menjangkit kesuluruh
tubuh Agama.
Menyangkut masalah yang terjadi di
Rohingya. Masalah yang mengatasnamakan Agama amat sulit untuk diselesaikan bila
perlakuan itu didukung langsung oleh Negara. Pembiaran angkatan bersenjata
terhadap genosida yang dilakukan oleh kelompok 969 itu tidak akan pernah
berhenti jika Negara yang bersangkutan tidak turun tangan. Hal ini bisa menajdi
sebuah tanda pelajaran agar mematikan niat sadistis yang beralasan radikalis
sejak dini. Karena terorisme bukan hanya urusan agama tapi ini adalah urusan Negara.
Setelah mendengar suara lantang akan
nasib manusia Rohingya. Kita sebagai manusia yang beradab jangan cepat
berkesimpulan untuk membalas dendam kepada kelompok yang obskurantisme
tertentu. Semua agama memiliki unsur Cinta. Hanya saja Cinta itu terkungkung
saat Radikal Agama berteriak. Cintapun buta oleh permusuhan. Maka sebagai islam
yang hanif. Kita jadikan peristiwa Rohingya sebagai pelajaran untuk tidak
beradikal anarkisme yang sadisme. Tapi boleh Radikal fundamentalis yang moderat. Marilah kita
beragama cinta. Bukan cinta Agama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar