Manusia
menjadi homo sapiens sapiens (I)
M’R
Charles Darwin adalah seorang yang rela ateis
dengan alasan materialisme. Namun pernah menguncangkan akal dan iman manusia
fundamentalis agamais dengan tesis” Manusia adalah hasil evolusi dari genus
Kera”.
Teori kontroversial ini bisa jadi benar. Aristoteles
juga bisa jadi menjadi pendukung teori Charles Darwin dengan definisi
manusianya yang bijak itu. “ Manusia adalah binatang yang berakal.”
Lewat definisi dan teori dari dua manusia bijak
itu. Manusia harus secara paksa mengakui dirinya bahwa manusia se genus dengan
binatang yang berbulu seperti kera dalam spesies yang berbeda namun manusia
sombong dan sok suci menutup telinga dengan fakta itu.
Dari sejarah
waktu panjang kemarin. Manusia menfaktakan dirinya sebagai binatang yang paling
buas. Nafsu kebinatangannya lebih dari buaya muara bergigi tajam itu. Racunnya lebih
mematikan dari ular cobra. Dan kecepatan geraknya lebih dari pada seribu cetah.
Dari fakta kebinatangannya itu. Manusia banyak menpunahkan spesies lain kedlam
perut besarnya. Tanaman-tanaman indah banyak sudah menjadi bangunan monoton
yang enyesakkan. Tanah yang gembur dan subur raup menjadi aspal panas yang
meracuni pernapasan. Lalu apakah manusia menyadari fakta itu. Tidak adalah
jawaban mayoritas karena manusia adalah bintang yang belum masuk pada definisi
Aritoteles. Manusia jauh tidak menggunakan akalnya.
Maka manusia harus menjadi Homo sapiens. Dari terowongan
kebijaksanaan. Misi ini bukan ingin membinatangkan manusia. Tetapi ingin
memanusiakan manusia. Buya Syafi’i lewat opininya mengatkan. “ manusia sebagai
homo sapiens belum kunjung muncul dikalangan orang yang mengaku beragama
ataupun tidak beragama.
Manusia agamais mesti berdamai dengan teori
Chaerles Darwin lewat jabat tangan hikmah omo sapiens. Charles Darwin telah
memilih label untuk genus manusia homo sapiens, manusia yang bijak. Bukan homo
faber, manusia yang teknisi. Namun secara mayoritas. Manusia homo sapiens amat
langka dan mungkin menuju pada kepunahan. Manusia yang homo libido lebih
mendominasi peradaban. Jika terus seperti ini manusia secara paksa dan pasrah
meng hari-kiri kan peradaban.
Tapi mutlak seharusnya manusia homo sapiens
semestinya harus lahir dari rahim manusia homo sapiens yang maha besar dari
drama sejarah manusia mesti harus meninggalkan kebinatangannya. Yakni menjadi
Homo sapiens sapiens dalam hakikat predikat dan nama. Manusia yang maha bijak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar