AKU SENANTIASA BARU.
Aku senantiasa Baru
Seorang filsuf yunani kuno bernama Heraklitus.
Yang telah dewasa pada kira-kira tahun 500 SM. Tak banyak yang dapat diketahui
dari kehidupannya, kecuali bahwa ia adalah warga Ephesus kelas bangsawan. Ia
terkenal di zaman antik karena doktrinnya bahwa segala sesuatu mengalami
perubahan terus menerus.
Heraklitus memiliki etika sejenis asketisme
yang jumawa, yang amat mirip dengan pandangan Niatzche.
Heraklitus berpandangan bahwa jiwa adalah adonan dari campuran antara api dan
air. Ketika api lebih mendominasi maka
adonan itu akan kering. Dan jiwa yang kering adalah yang terbaik dan bijaksana.
Dan apabila jiwa merasa nikmat ketika menjadi basah maka kematian bagi jiwa.
Heraklitus memperjelas bahwa dia memuliakan kekuatan yang diperoleh lewat
penguasaan diri, dan memandang rendah nafsu-nafsu yang menyimpangkan manusia
dari ambisi-ambisi utamanya.
Doktrin bahwa segala sesuatu berubah terus
menerus adalah pandangan Heraklitus yang paling terkenal, dan suatu ajaran yang
paling ditekankan oleh pengikut pengikutnya, seperti digambarkan dalam
Theatetus karya Plato.
“ Engkau tak dapat mencebur dua kali kedalam
sungai yang sama, karena air segar senantiasa mengalir melintasimu.”
“matahari selalu baru setiap hari”
Doktrin inilah yang akan kami bahas dalam
paragraf-paragraf berikutnya.
Heraklitus seorang bijak yang seolah
mempermainkan akal manusia yang datang selanjutnya. Heraklitus mengajarkan “
tak ada yang abadi, segala sesuatu senantiasa menjadi” dan ajaran ini seolah
menjadi sebuah petualangan akan pencarian shopos yang begitu gemerlap dan
senantiasa menjadi sebuah pertentangan.
Jika memang semua yang ada ini terus berubah.
Akan menjadi sebuah pertentangan dalam ajaran Agama. Dimana Agama Meyakini
permanensi dalam dua bentuk, ialah Tuhan dan immortalitas. Pada Tuhan tak ada
keserba serbian atau sediktpun perubahan karena Dia adalah maha Abadi. Begitu
pula dengan kehidupan sesudah mati yang bersifat abadi dan tentu saja tak
berubah. Namun Heraklitus menjungkir balikkan konsepsi itu. Teologi liberal
modern meyakini bahwa terjadi gerak maju disorga dan evolusi pada Tuhan.
Lalu dari doktrin Heraklitus ini pula. Ada
sebuah konsepsi yang berlanjutan dimana bila segala sesuatu itu terus berubah
maka Tuhan terus menerus menciptakan. Jika diperhatikan secara seksama. Seorang
manusia yang terlahir dari sperma akan terus mengalami perubahan hingga dia
bertumbuh dewasa. Dan ini memungkinkan bahwa dalam setiap detik waktu yang berjalan
Tuhan tak pernah berhenti untuk terus menciptakan. “ aku tak diciptakan hanya
sekali tetapi setiap detik terus baru. Aku yang sekarang bukanlah aku yang
kemarin. Aku yang sekarang adalah aku dan aku yang akan datang bukanlah aku
yang sekarang”.
Memang pencarian akan seuatu yang permanen
adalah tujuan yang menjadikan seorang berfilsafat yang berangkat dari hati yang
paling dalam. Manusia memang tak bisa menyangkal bahwa waktu adalah sesuatu
yang fana yang terus mengalami perubahan. Namun sesuatu yang abadi bukanlah
sesuatu yang terlingkup oleh waktu. Eksitensi keabadian sepenuhnya terlepas
dari waktu dimana tak ada yang sebelumnya dan sesudahnya. Sehingga tak ada
kemungkinan logis perubahan. Bagaimanakah sesuatu yang abadi itu akan berubah.
Bila yang merubah juga akan berubah.
Dia mencipta adalah yang abadi maka yang
dicipta adalah sesuatu yang akan terus mengalami perubahan. Dia mencipta secara
terus menerus. Sesuai dengan doktrin Heraklitus yang datang dari 500 SM.
Dan kemudian seorang Ignatius Loyola yang
datang jauh kemudian pada 1491-1156 ikut mendukung hal ini dengan mengeluarkan
asas Fundamentum yang terkenal dikalangan serikat Yesus.
Fundamentum dalam hal ini adalah sebuah
proses. Dimana manusia berusaha untuk terus menerus mendengar ajakan Tuhan
dalam setiap situasinya yang konkret. Tuhan selalu aktif menciptakan dalam
situasinya yang konkret itu. Tuhan selalu kreatif mencipta. Maka manusia dalam
hal ini tidak bisa bersikap pasif, seakan hanya sekali saja Tuhan
menciptakannya. Penciptaan itu bukanlah suatu aktivitas yang datang dari jauh
dan tak terpahami, tetapi terjadi langsung dalam situasi manusia dizaman ini,
dari sejarah hidup kita, kini dan disini.
Fundamentum dengan demikian mengajarkan. Tak
seuatupun yang tetap didunia ini. Manusia diajak untuk terus menerus ikut
didalam karya Tuhan yang selalu menciptakan aku setiap kali baru, dalam setiap
moment hidupku. Fundamentum dapat dilihat sebagai suatu upaya untuk
memperhatikan Tuhan yang senantiasa bekerja dengan kita untuk bersama- sama menciptakan
hidup kita.
Dengan demikian Tuhan terus menerus
menciptakan. Dimana Tuhan adalah yang abadi tidaklah mengalami perubahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar