Abad yang gila
Eksistensi, kiranya mungkin secara sangat sempit dimulai dari
bangun tidur sampai tidur lagi. Dan secara lebih luasnya eksistensi manusia
dimulai dari diciptakannya sampai diakhirkannya. Secara tak sadar kita telah
berada pada zaman inautentik. Dimana setiap pergerakan eksistensi kita
dipengaruhi oleh eksistensi orang lain. Sehingga be your self. Hanya menjadi
omong kosong belaka.
Abad 21 adalah abad yang gila. Abad yang mengharuskan semua orang
bergerak dengan cepat dan instan. Jika tak cepat maka akan tertinggal. Jika tak
instan maka tak akan cepat. Maka orang yang berusaha autentik, be your self.
Akan menjadi terbelakang dan bisa menjadi sampah masyarakat.
Didalam era informasi cayber space dewasa ini. Manusia terperangkap
oleh yang disebut kecepatan. Kecepatan
yang timbul sebagai akibat dari perkembangan teknologi mutakhir. Kecepatan
telah membebaskan manusia dari berbagai hambatan dan konstrain dunia khususnya
hambatan ruang dan waktu, dan yang memungkinkan manusia untuk menjalankan model
kehidupan yang serba segera, isntan, dan cepat. Akan tetapi sekaligus
memerangkap manusia di dalam arus kecepatan itu sendiri, yaitu dengan
menjadikan kecepatan sebagai sebuah ketergantungan.
Manusia terjebak dalam arus kecepatan dengan segala resiko yang
harus dihadapinya. Nyaris kebanyakan manusia melakukan segala sesuatu dengan
cepat: bekerja cepat,bicara cepat, menonton cepat, bisnis cepat, makan cepat,
membaca cepat, bermain cepat, bahkan bercinta dengan cepat. Dalam kondisi
demikian, keseketikaan merupakan hukum didalam jaringan dan didalam kehidupan
emosi manusia, dan mereka dikelilingi oleh benda-benda instan: kopi instan,
mebel instan, makan instan, mie instan, kemesraan instan, instan replay,
belajar instan, kursus instan, dan kepuasan instan. Semua dibeli bukan karena
kebutuhan tapi semata mata karena hasrat. Maka fenomena instan dan cepat menimbulkan kebiasaan konsumeristik.
Abad ke-21 memang memberikan segalanya yang melampaui mimpi-mimpi
setiap manusia, tapi malah menimbulkan fenomena paradoksal: sebuah realitas
kehidupan yang begitu sarat hiburan begitu miskin kedalaman, begitu sarat
kegairahan begitu miskin pencerahan, begitu sarat informasi begtiu miskin
kontemplasi, begitu sarat ekstasi begitu miskin sosialisasi, begitu kaya
perlengkapan begitu miskin pemaknaan, dan begitu banyak kesenangan begitu
miskin kedamaian. Sebuah kondisi dimana bercampur aduknya nilai nilai spiritual
dan nilai-nilai materialis, bersekutuanya yang dunia dengan yang ilahiah,
bersimpang siurnya yang transsenden dengan yang imanen, bertumpang tindihnya
hasrat rendah dengan kesucian, sehingga perbedaan diantara keduanya menjadi
kabur.
Manusia yang berpikir dengan hanya berlandaskan materi sematanya
adalah manusia yang tidak berpikir. Tetapi meski tidak berpikir manusia tetap
berpikir tetapi berpikir dalam ruang lingkup kalkulatif. Yatu berpikir semata
mata pada ukuran, statistic, modal, keuntungan dan produksi.
Maka jika selama ini kita merasa telah masuk dalam perangkap dalam
kecepatan dan keinstanan. Marilah kita berhenti sejenak. Untuk berpikir dengan
berpikir secara filosofis. Agar kita tidak menjadi budak bagi teknologi yang
dibuat manusia itu sendiri. Spiritual harus lebih dikedepankan dari pada
materi. Materi mengikuti kehidupan spiritual dan spiritual mengendalikan
materi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar