CERPEN HOROR
“Ai dende, ada Putu gentayangan”
“Ai dende, ada Putu gentayangan”
Bontojai dipenuhi dengan orang-orang yang berwajah
ketimuran. Kulit sawo matang khas wajah-wajah keturunan Turatea. Bicaranya juga
memiliki keunikan. Yang diakhir kata selalu diberi tanda seru. “ Weh battu
kemaeko!” itu kalimat yang terdengar paling kasar. Jika dilembutkan maka
seperti ini jadinya. “ Weh dari manako!” masih tetap diberi tanda seru disertai
penegasan. Atau yang super lembut “ Dari mana aja kamu!” masih juga diberi
tanda seru. Artinya sehalus apapun ucapan yang dikeluarkan mulut-mulut para
Daeng, ucapan itu akan selalu terdengar kasar. Dan mustahil orang Asli Makassar
menjadi anak alay. Apalagi berucap “ Ayah, Gurindaka Ayah!”. kalau orang Asli
Makassar nekad mengucapkan itu, maka patung monyet di Banti murung akan bangun
dan pergi mandi-mandi di air terjunnya . Atau bila Ucapan itu
terdengar oleh patung Ramang di Karebosi maka dia akan hidup dan pergi
main bola di Santiago bernabue nalawanki Barcelona. Atau yang lebih ekstrim
lagi. Kalau ucapan itu terdengar oleh patung-patung pahlawan di Anjungan maka
patung-patung itu akan mengucapkan “ Ayah hentikan, nda kuat maka’!” juga masih
dengan tanda seru.
Pada setiap perkampungan atau hampir setiap daerah
memiliki mitos tersendiri. Dan anehnya hampir semua warganya mengakui itu dan
percaya setengah mati. Tak terkecuali dengan warga kampung Bontojai. Belakangan
ini muncul “carita mate”—Cerita kosong--. Katanya setiap malam juma’at
terdengar suara tangisan dibawah pohon tua dibelakang kebun Dg Kulle tepatnya
dilorong kampung. Posisi rumahku pas berada disitu. Dan cerita itu sudah
tersambung kemana-mana dan menjadi buah bibir yang menyegarkan. Orang makassar
mengistilahkannya sebagai “Pa’balle Toli”—obat telinga--. Tapi Banyak orang
yang mempercayainya dan sedikit orang yang tidak percaya. Aku berada pada
kelompok orang yang tidak percaya. Malam ini akan kubuktikan. Apakah benar
cerita itu?.
Malam Jum’at yang agak menyeramkan. Orang-orang
selalu bilang kalau suara tangisan itu terdengar pada tepat setengah dua belas
malam. Maka aku duduk di siring –beranda-- rumahku dengan sarung yang melilit
badanku. aku sudah begadang dengan secangkir kopi melewati jam 10 dan sudah
sampai pada jam 11 tepat. Setengah jam lagi fakta akan terungkap. Dan cerita
itu adalah sekedar “ Pa’balle Toli Tojeng”.
Jam 11.20 sepuluh menit lagi. Aku sudah sangat
siap dengan sebuah handphone untuk merekam suara itu jika benar-benar ada. Aku
sedikit ketakutan tapi rasa penasaranku membuatku ingin menuntaskannya segera.
Jam 11.25. lima menit lagi menuju pembuktian.
Jalan benar-benar sudah sepi. Orang-orang sudah tertidur diatas kasurnya
sedangkan aku masih duduk diatas siring rumahku. Kusiapkan telingaku lebar-lebar.
Dan terdengarlah suara itu. Iyah, Suara tangisan itu benar-benar terdengar.
Ternyata itu bukan “carita mate”. Aku mulai ketakutan, Mulai menggigil, Bulu
jaketku merinding. Suara tangisan itu berada dari ujung jalan. Dan kini suara
itu semakin jelas memanjang. Suara
tangisan itu mendekati telingaku seolah-olah benar-benar berada didepan
telingaku. Aku sudah ketakutan setengah mati. Tapi dalam ketakutan itu aku
sadar mendengar suara lonceng dan suara manusia yang berucap “ Putu, Putu,
Putu”. Yah dia berkata seperti itu “ Putu, Putu, Putu”. Aku membuka sarung yang
menutupi seluruh badanku dan kutengok kearah jalan. Ternyata oh ternyata , suara
tangisan itu berasal dari Daeng Tarra“ Pabalu Putu Menangis ( penjual putu
menangis)”.
Astaga, Aku hampir saja dipercundangi oleh mitos
yang jauh dari kata fakta. Begitulah orang-orang Makassar. Pandai membuat
cerita dari pandangan yang sekelebat saja. ketika melihat daun bergerak
ditengah malam sudah di anggap ada “ Babi ngepek” disitu. Ketika berhalusinasi
melihat tiang listrik sudah dianggapnya “ Longga’”. Atau ketika melihat usus
Kucing yang tertabrak mobil sudah dibuat cerita tentang “ Poppo’ gentayangan”
yang beterbangan ditengah malam. Atau kalau terdengar kabar ada seorang ibu
yang keguguran sudah dibuat cerita lagi tentang “Parakang”. Cerdaskan.
“Daeng. Putu menangista’ 5 biji” aku memesan, rasa
takut tadi sudah membuatku kelaparan.
Begitu putu itu habis diperutku dan Dg Tarra sudah
jauh pergi meninggalkanku. lalu timbul pertanyaan yang lebih menyeramkan.
Pabalu putu mana yang menjual sampai tengah malam?. Ah terima sajalah.
Berbicara tentang putu. Di Makassar ada lima jenis
putu yang populer. Aku tidak tahu apakah ada putu yang keenam atau lebih jauh
dari jumlah itu. Tapi yang aku ketahui cuman ada lima. 1) Putu Cangkiri’, 2)
Putu Ambong, 3) Putu Labu’, 4) Putu Menangis dan 5) Putu Kacang. Dari kelima
putu ini yang paling populer adalah putu cangkiri. Yang sering dijajakan dipagi
hari menjadi sebuah santapan yang nikmat. Putu Cangkiri juga banyak dijumpai
dijalan-jalan poros dari Makassar, Gowa, Takalar dan Jeneponto. Putu cangkiri
terbuat dari beras ketan yang ditumbuk halus kadang dicampur dengan gula merah
atau dibiarkan putih polos. Lalu dibentuk disebuah cangkiri yang berbentuk
lingkaran, ditengah lingkaran itu diberi kelapa lalu ditaburi lagi beras ketan.
kemudian diletakkan diatas uap panas. Dibiarkan sampai hangat. Maka
terhidanglah satu putu cangkiri yang lezat.
Putu yang kedua adalah putu Ambong. Bentuknya sama
persis dengan putu Cangkiri. Tapi yang menjadi selainya atau “ kambunna” adalah
gula merah yang mencair. Kalau dimasukkan kedalam mulut maka gula merah itu
akan meledak seperti memasukkan gunung Berapi kedalam mulut lalu meledakkan
lavanya didalam mulut kita. Analogi yang terlalu memaksa memang. Karena sulit
untuk menggambarkan kelezatan putu Ambon.
Putu selanjutnya adalah putu Labu’. Putu yang
direkomendasikan bagi penderita Diabetes yang mau tetap menikmati putu tanpa
harus banyak mengkonsumsi Glukosa. Putu ini jauh berbeda dengan putu Cangkiri
dan Putu Ambon tapi komposisinya tetap sama. Yang membedakan adalah bentuknya.
Putu Labu’ dibentuk dari potongan bambu kecil yang sepanjang jari telunjuk dan lebarnya satu
setengah ruas jari tengah. Didalam tabung putu Labu’ tidak dijumpai gula merah
atau kelapa yang didapati pada Putu Cangkiri. “Kambunna” ada diluar tabung
yaitu taburan kelapa muda yang diparut. Rasanya gurih dan manis-manis asin.
Putu yang keempat adalah putu menangis. Putu yang
sudah hampir membuatku kencing dicelana. Putu ini bentuknya sangat berbeda
dengan putu cangkiri tapi sangat persis dengan putu Labu. Bahan pembuatannya sama dengan putu-putu
sebelumnya. Putu menangis berbentuk tabung juga. Tapi kini berisi gula merah
yang sama dengan putu Ambong. Tapi putu Menangis memiliki ciri khas tersendiri
yang membedakannya dengan putu-putu yang lainnya. Ciri khas itu terletak pada
uap panas yang yang mematangkan putu. Uap panas itu mengelurkan bunyi tangisan
yang bernada “uuuuuuuuu” terus memanjang. Suara tangisan itu akan terhenti
kalau putu didalam bambu kecil diletakkan diatas uap. Kemudian terdengar lagi
kalau putu itu diangkat. Dari situlah risalah penamaan Putu menangis. Andaikan
saja uap itu berbunyi “ hahahahaha”. Maka akan dinamakan putu ketawa. Atau jika
uap itu mengeluarkan suara “ Ayah,Ayah,Ayah” maka putu itu dinamakan putu
bencong bernafsu. Atau seandainya uap itu mengeluarkan bunyi “itteh, itteh,
itteh” maka akan dinamakan putu Miyabi. Masalah rasa sangat sulit untuk
dideskripsikan. Lezatnya bukan main. Orang makassar kalau makan Putu Menangis
akan berkata “ Jannanah”. Namun sayang belakangan ini putu menangis sudah sangat
jarang dijumpai didaerah Makassar. Apa lagi di Bontojai. Aku saja terakhir kali
menyantap putu menangis enam tahun yang lalu. Dan itu membuatku menangis. Tapi
rasa “jannanah” itu masih membekas dalam ingatanku. Makanan yang menjadi
rekomendasi nomor satu.
Putu yang terakhir adalah putu Kacang. Putu yang
sangat berbeda dengan putu lainnya. Baik dari segi bahan maupun dari segi
bentuk. Putu Kacang dibuat dari Kacang hijau yang digoreng lalu dikuliti.
Kemudian ditumbuk sampai halus kemudian dicampur dengan gula pasir dan dibentuk
seperti emas batangan yang sekecil jari telunjuk orang obesitas. Lalu dijemur
dibawah terik matahari. Dijemurnya tidak boleh terlalu lama. Jika terlalu lama
maka putu Kacang akan menjadi putu Batu. Sangat keras ketika digigit. Tapi jika
terlalu cepat juga putu Kacang juga akan menjadi putu lembek. maka Putu Kacang
yang baik dijemur dengan takaran yang seimbang, tidak terlalu lama dan tidak
terlalu cepat. Ingat dijemur dibawah terik matahari. Jangan dijemur dibawah
sinar bulan. Karena kalau dijemur dibawah sinar rembulan bisa-bisa putu itu
jadi GGS. Rasa dari putu Kacang yang mendominasi adalah Rasa manis. Jika sudah
digit jangan langsung ditelan bisa-bisa anda masuk rumah sakit dengan diagnosa
“dikallong putu Kacang” . jika sudah masuk kedalam mulut. Putu kacang akan
meleleh dan terasa kasar yang menjadi sensasi tersendiri. Putu kacang akan
sangat dijumpai ketika musim “Siarah” di hari raya idul Fitri.
Kelima makanan ini menjadi makanan yang merakyat.
Namun saudara-saudara sekalian makanan ini menjadi makanan yang terancam punah.
Dan sudah sangat langkah. Jika selama ini banyak kampanye untuk melindungi
hewan-hewan yang hampir punah. Maka akupun mengkampanyekan kepada
saudara-saudara sekalian untuk melindungi makanan khas Indonesia yang juga
terancam punah. Kita harus melindunginya dengan menjadi konsumen dan produsen
yang bijak. Tahu namanya, jenis makanannya, asal daerahanya dan paling
terpenting tahu cara pembuatannya. Kurangi pula mengkonsumsi makanan dari luar
negri. Jika selama ini kita suka makan Sphageti maka gantilah dengan mie Titi
atau Gapurung. Jika selama ini kita suka makan Burger maka gantilah dengan
makan Roti Maros atau Bayao Panyu. Jika selama ini kita suka makan Pitza
gantilah dengan Terang bulan atau martabak spesial. Cintailah makanan
Indonesia. asyike.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar