Fundamentum memandang Antroposentris.
sebuah radikal dilema.
sebuah Esai hasil baca dari buku Sesudah Filsafat
sebuah radikal dilema.
sebuah Esai hasil baca dari buku Sesudah Filsafat
.Ignatius loyola ( 1491-1156).
pendiri serikat Yesus .mengeluarkan Azaz Fundamentum yang terdapat pada latihan
Rohani nomor 23. beginilah bunyinya:Manusia diciptakan untuk memuji ,
menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan demikian menyelamatkan
jiwanya. barang lain diatas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk
menolongnya dengan mengejar tujuan ia diciptakan. maka manusia harus
mempergunakan, sejauh itu menolongnya mencapai tujuan tadi, dan melepaskan diri
dari padanya, sejauh itu merintanginya. Sebab itu kita perlu mengambil sikap
lepas bebas terhadap segala barang ciptaan, asal itu terserah pada kemerdekaan
kehendak bebas kita, lagi pula bukan hal terlarang. begitulah Hingga dari pihak
kita tidak menghendaki kesehatan melebihi sakit, kekayaan melebihi kemiskinan,
kehormatan melebihi penghinaan, hidup panjang melebihi hidup pendek, dan begitu
seterusnya mengenai hal lain. kita melulu akan menginginkan dan memilih apa
yang lebih membimbing kearah tujuan kita diciptakan.
Teori
Fundamentum lebih jauh mengatakan " manusia itu bukan untuk dunia.
tetapi dunialah untuk manusia." dikutip dari buku ( sesudah Filsafat
). teori ini menunjukkan. bahwa tujuan hidup Manusia hanyalah fokus untuk
memuji dan menyembah Tuhannya. sementara posisi dunia hanya menjadi sebuah alat
untuk membantu eksistensi manusia dalam memuji Tuhannya. jika alat itu ternyata
tidak membantu manusia dalam eksistensinya memuji Tuhannya maka dia berhak
bahkan harus meninggalkan alat itu.
Teori
Fundamentum lebih lanjut mengatakan. dunia dan manusia adalah sama sama
ciptaan. tetapi manusia dalam hal ini berbeda dari hal-hal lain yang ada di
dunia. manusia diciptakan untuk memuji Penciptanya. sedangkan ciptaan yang lain
diciptakan untuk membantu manusia memuji penciptanya. lalu siapakah manusia
yang disebut oleh Fundamentum itu?. seorang Karl Rahner menjawabnya dalam
bukunya Einubung priesterlicher Existence ( dikutip dari buku Sesudah filsafat,
essai G.P Sindhunata). Rahner mengatakan, manusia yang dimaksud oleh Fundamentum
itu bukanlah manusia pada umumnya, tetapi "aku" atau
"pribadiku" ini. Memang ada manusia lain seperti aku. tetapi Fundamentum
tidak berbicara sola manusia yang lain seperti aku, melainkan tentang aku.
Kalau tidak demikian, jika yang dimaksud adalah manusia pada umumnya, maka
pengertian "hal hal lain diatas dunia" tidak mempunyai tempat dalam
Fundamentum. Dengan kata lain, jika manusia itu adalah aku. maka
manusia-manusia selain aku mesti "diundurkan atau dimasukkan" dalam daftar
"hal-hal lain" yang perlu diacuhkan. sebab sama dengan "hal-hal
lain" manusia yang selain aku bisa membantu tetapi juga bisa menghambat
aku dalam menjapai tujuanku diciptakan
Seperti
itulah pandangan Antropsentris yang radikal dari Fundamentum. Manusia itu
justru karena ia adalah aku, maka ia adalah einmalig ( suci ), satu satunya dan
tiada duanya. Manusia lain bisa menjadi penghalang bagi aku untuk menjadi
einmalig. artinya selain aku dapat membuat aku menyimpang dari tujunku
diciptakan. kalaupun ia membantu, ia juga tidak boleh meniadakan ke
einmalig-anku. Artinya, ia harus membantu aku untuk meraih tujuanku diciptakan.
Maka akhirnya, satu-satunya pasanganku hanyalah Tuhan, karena hanya pada Dia
akhirnya aku harus mempertanggungjawabkan ke eimaliganku. hanya dalam dialog
dengan Dia, aku menjadi tahu, mengapa aku ini harus diciptakan. karena itulah
aku harus menerima kesepianku dengan Dia. karena hanya dengan Dialah ke
einmaliganku tercapai. Tetapi juga dalam Dia, yang menciptkan aku dalam
keinmalganku itu, maka aku bisa menanggung kesepian itu. dikala kesepian itu
menjadi sebuah beban yang sedemikian berat buat aku. Dialah yang
"menyudutkan" aku dalam kesepian dan kesendirianku. tetapi Dia pula
yang menjadi pengungsian bagi kesendirian dan kesepianku itu.Dan itulah radikalitas
dari sebuah Fundamentum bukan manusia lain tetapi akulah yang harus bertanggung
jawab terhadap ciptaan ini.selanjutnya, aku adalah ciptaan itu berarti, bahwa
aku terbatas, dan tahu akan keterbatasanku. aku tidak mungkin melampaui
keterbatasan itu. Kendati demikian, aku ini ada, dan adaku bukan sekedar maya
atau kesemuan belaka . juga yang ada pada aku bukanlah kesia-sia an belaka.
Tetapi aku ini terbatas. Dan karena keterbatasan itulah mau tidak mau akau
harus pergi dari diriku. ini artinya jalan yang lurus itu adalah dalam
diriku. dan jalan itu menuju kepada Tuhan yang sesuai dengan
pengalamanku. Aku memiliki ketidakterbatasan atau sebuah kebebasan yang
Absolut. maka aku harus menuju dan menyerahkan diri pada-Nya yang memiliki
ketidakterbatasan dan kebebasan yang Absolut itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar