Rabu, 17 Juni 2015

apa sih ramadhan itu ?




Allah Swt berfirman “"bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu..."
—(Al-Baqarah 2: 185)

Alhamdulillah. Segala puji bagi Tuhan yang melonggarkan waktu. Dengan kelonggarannya Allah Swt masih memberikan kesempatan untuk bertemu waktu Ramadhan sekali lagi di tahun 2015. Waktu yang harusnya di jadikan sebagai waktu untuk mensucikan diri. Juga waktu yang dijadikan sebagai tempat untuk mempantaskan diri di hadapan Tuhan. Dan waktu Ramadhan secara filosofis dijadikan sebagai ajang untuk mengenal diri.
Ramadan berasal dari akar kata ر م ﺿ , yang berarti panas yang menyengat. Bangsa Babylonia yang budayanya pernah sangat dominan di utara Jazirah Arab menggunakan luni-solar calendar (penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus). Bulan kesembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat. Sejak pagi hingga petang batu-batu gunung dan pasir gurun terpanggang oleh sengatan matahari musim panas yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Di malam hari panas di bebatuan dan pasir sedikir reda, tapi sebelum dingin betul sudah berjumpa dengan pagi hari. Demikian terjadi berulang-ulang, sehingga setelah beberapa pekan terjadi akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itu disebut bulan Ramadan, bulan dengan panas yang menghanguskan.

Setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis bulan, yang rata-rata 11 hari lebih pendek dari kalender berbasis matahari, bulan Ramadan tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas. Orang lebih memahami 'panas'nya Ramadan secara metaphoric (kiasan). Karena di hari-hari Ramadan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan. Atau, diharapkan dengan ibadah-ibadah Ramadan maka dosa-dosa terdahulu menjadi hangus terbakar dan seusai Ramadan orang yang berpuasa tak lagi berdosa. Wallahu `alam.

Dari akar kata tersebut kata Ramadan digunakan untuk mengindikasikan adanya sensasi panas saat seseorang kehausan. Pendapat lain mengatakan bahwa kata Ramadan digunakan karena pada bulan itu dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik sebagaimana matahari membakar tanah. Namun kata ramadan tidak dapat disamakan artinya dengan ramadan. Ramadan dalam bahasa arab artinya orang yang sakit mata mau buta. Lebih lanjut lagi hal itu dikiaskan dengan dimanfaatkannya momen Ramadan oleh para penganut Islam yang serius untuk mencairkan, menata ulang dan memperbaharui kekuatan fisik, spiritual dan tingkah lakunya, sebagaimana panas merepresentasikan sesuatu yang dapat mencairkan materi.

Ramadhan juga disebut sebagai bulan shaum atau bulan puasa. Bulan yang artinya selama kurun waktu sebulan itu di isi dengan kegiatan berpuasa. Dari terbitnya matahari hingga tenggelamnya matahari. Namun bulan puasa tidak akan memiliki arti jika tak beramadhan. Karena jika difilosofiskan. Inti dari puasa adalah proses penyucian. Maka dengan berpuasa saja tanpa Ramadhan adalah nihil. Namun beramadhan dengan berpuasa adalah kesempurnaan.

Ada banyak sekali ibadah yang ditawarkan Tuhan di bulan Ramadhan. Mulai dari puaa itu sendiri. Sholat wajib yang pahalanya dijanjikan berlipat ganda. Juga sholat sunnah yang di seolah olahkan sama nilainya dengan sholat wajib. Bacaan Al-Qur’an yang adalah satu huruf nilainya 10 pahala. Sholat tarawih yang dilaksanakan setelah sholat isya. juga sahur dan berbuka puasa yang mengajarkan kebersamaan. Lalu datanglah hari ke tujuh belas. Hari yang disebut sebgai hari lailatul Qadar. Malam yang adalah malam seribu bulan. Malam yang begitu penting. Malam yang menjadi puncak dari bulan ramadhan.

Bulan ramadhan jika kita tilik esensinya. Seorang yang sedang menjalankan Ramadhan sama dengan seorang yang sedang mencari harta karun yang terletak diatas sebuah gunung. Awal ramadhan manusia berada pada lereng gunung mempersiapkan dirinya mendaki gunung untuk mendapatkan harta karun di puncak. Namun manusia harus mesti menahan(berpuasa) dari egonya untuk ingin cepat mendapatkan hasil. Selain dari pada itu dia harus mesti selalu ingat dengan Tuhannya. Jika itu dilakukannya maka dia akan berada di puncak pada hari ke 17. Dan harta karun akan ia peroleh yakni malam lailatul Qadar. Sebuah harta qarun dari sang maha kebenaran. Lalu setelah mendapatkan hasil itu manusia harus mempertahankan apa yang sudah di raihnya hingga terus berada kembali ke lereng gunung. Jika ia berhasil maka dia akan disambut dengan hari raya idul fitri.

Kurang lebih seperti itulah gambaran akan manusia yang sedang berpuasa. Ramadhan mesti dijadikan sebagai peluang untuk memperkenalkan diri di hadapan Tuhan. Yang adalah tempat kita untuk kembali. Yang adalah dialah yang menciptakan kita dari ketiadaan. maka marilah kita beramadhan dengan cerdas.



Selasa, 16 Juni 2015

Korupsi adalah kesundalan


KORUPSI ADALAH KESUNDALAN

M’R



Korupsi berasal dari bahasa latin yakni coruptio yang di melayukan menjadi kebiadaban, ketidak jujuran, dan kejelekan. Apabila di lontarakkan, coruptio adalah ke Sundalan dan ke kabbulamakkang. Karena manusia yang berkorupsi lebih rendah dari binatang bahwa kemoralannya di kalahkan oleh kemuliaan seekor Anjing jalanan.
Korupsi di istilahkan sebagai kejahatan dan keselewengan untuk memperkaya diri sendiri. Perilaku korupsi sering di istilahkan sebagai kejahatan kerah putih. Kejahatan biadab yang terselubung dan di tutup- tutupi.
Korupsi merupakan kejahatan yang amat susah untuk di berantas dan di bersihkan secara suci, se suci-sucinya. Korupsi adalah kejahatan pertama yang dilakukan manusia. Saat Adam dan Hawa berkorupsi memakan buah Khuldi. Maka untuk memberantas korupsi itu mustahil karena apabila di paksakan. Manusia mesti semuanya harus di genosidakan. Karena makhluk yang paling memiliki kesempatan untuk berkorupsi adalah manusia.
Maka satu-satunya hal yang dapat. Dilakukan untuk korupsi adalah menekan dan menakut-nakuti. Menekan dalam artian bahwa korupsi terjadi karena rendahnya iman dalam semesta hati. Iman para koruptor berada pada kenegatifan. Dengan iman yang berada pada garis positif akan mencegah perbuatan korupsi. Pencegahan yang kedua adalah menakut-nakuti. Cara ini adalah cara tuhan dalam menundukkan ciptaannya yangg berakal. Lewat neraka Tuhan menundukkan para pelaku dosa dan lewat siksaan kubur Tuhan merajinkan manusianya yang malas. Namun pelaku korupsi kadang tak bertuhan dan membunuh atau mematikan Tuhan, maka dengan neraka dan siksa kubur tidak lagi mempan terhadap kebodohan kebintangan nafsunya yang liar. Maka upaya untuk menakut-nakuti yang efektif adalah membuatkan hukum tertulis. Hukum yang dapat membuat merinding makhluk hidup, yakni hukuman mati. Upaya ini amat efektif diperlakukan di negara Tiongkok untuk mengurangi perlaku korupsi disana.
Di Indonesia sendiri korupsi menghadirkan paradoks yang mendilematiskan keindahan negeri Indonesia. Indonesia dalam catatan Azyumardi azra sebagai negara muslim terbesar, negara dengan mesjid terbanyak, juga negara yang oknum islamnya paling rajin ibadah. Namun catatan dunia menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup. Sungguh ini adalah sebuah paradoks yang dilema dan parah. Bagaimana bisa negara yang banyak pemirsa Al-Qur’an dan haditsnya yang paling banyak berkorupsi.
Psikokultural adalah pendorong utama perilaku korupsi. Indonesia tanpa sadar membudidayakan korupsi. Membiarkan korupsi menjadi penyakit epidemik yang menybar kesleuruh lapisan. Jika ingin di observasi. Lampu merah dan zebra cross menjadi contoh kasusu bagaimana korupsi yang biadab itu dilakukan. Ktika lampu merah bersinar memberhentikan lampu hijau maka seharusnya semua kendaraan yang di liputinya harus berhenti di belakang zebra cross. Tapi dasar binatang tolol. Ada yang berhenti dbelakang zebra cross tapi tergoda untuk melaju sbeleum nyalanya lampu hijau dan ada yang benar-benar sabar dan patuh menunggu lampu hijau.
Dari sini, dari contoh kasus itu dapat disimpulkan. Bahwa yang melewati lampu merah jelas sudah menjadi manusia bidab yang korupsi. Kelompok yang melewati zabra cross. Dan berhenti di sana amaat senagt rentan untuk berkorupsi. Kelompok yang berhenti dibelakang zebara cross. Tapi jalan sedetik atau tiga detik sebelum nyalanya lampu hijau akan masih berpeluang untuk melakukan kejahatan korupsi. Dan yang paling patuh jelas kuat imannya. Namun semua kelompok bisa berganti tempat kapan saja mengikuti iman yang di dalam hati berfluktuatif naik turun.
Di indonesia corruptio amat susah di kurangi. Karena korupsi dianggap benar oleh yang buruk. Ada seorang bijak yang mengadakan bahwa kejahatan yang paling biadab adalah kejahatan yang di lakukan oleh orang yang di anggap baik. Dan kejahatan yang biadab itu sedang musim indonesia. dimana korupsi banyak dilakukan oleh manusia dianggap baik juga dianggap suci. Maka ini berarti. Manusia Indonesia sedang mengalami penyakit (ummi)/buta. Tidak lagi bisa membedakan man yang sosok yang baik dna sosok yang buruk. Mana binatang mana politisi. Mana pencuri dan mana kyiai.
Jika semakin di elaborasikan dalam persoalan teologi. Korupsi adalah perbuatan yang dilaknat. Sampai-sampai jasad koruptor tidak bisa disholati.
Dala eksistensi manusia ada tiga jenis penyakit yang bisa menyerang. Pertama, penyakit tubuh atau biologis seperti kanker, tumor, jantung dan sebagainya. Kedua adalah penyakit jiwa atau penyakit psikologi. Seperti stress atau gila. Ketiga adalah penyakit rohani, yakni korupsi dan sejenisnya.
Bila dalam sebuah hadis, dijelaskan bahwa orang yang sedang mengalami penyakit biologis maka itu adalah sebuah cobaan dan ujian yang bisa menghapus dosanya atau menghentikan dosanya. Sedangkan manusia yang sedang mengalami penyakit jiwa maka dalam fiqh syariat tidak dilimpahkan hukum baginya. Tapi bagi manusia yang mengidap penyakit ruhani. Mereka adalah kesembuhan terakhir baginya jika tak bertaubat.
Manusia yang berpenyakit ruhani adalah orang-orang yang menggap perbuatan yang buruk itu adalah perbuatan yang baik. Jika sudah seperti itu setan dan dirinya dalam hal ini koruptor tidak lagi bisa dibedakan karena memang sudah sama. Jika telah sama. Tuhan telah mengatakan tempat kembalinya syaitan adalah neraka. Maka koruptor yang sedang mengalami kanker ruhani adalah bahan bakar neraka.
Seringkali di dapati. Bahwa perliaku kesundalan koruptor sangking parahnya kanker ruhani itu menggorogoti heart, head dan handnya. Menjadikan Tuhan sebagai dalang atau penyebab dari perbuatannya. Sudah sering kita dengar keluar dari mulutnya bahwa “ kasus ini hanyalah cobaan yang datang dari Tuhan. Tuhan tahu mana yang salah dan benar. Dan biarkan Tuhan yang menjadi saksi bahwa saya tidak bersalah”. Itulah ucapan mereka yang adalah ucapan orang-orang munafik yang datang sebelum mereka.
Maka kesimpulannya yang adalah kesimpulan yang pesimistis karena penulis sendiri sedang berada pada frustasi genosida korupsi. Berkesimpulan bahwa korupsi tidak akan pernah terjadi jika manusia itu sedang pada keadaan takut dan beriman kepada Allah swt. Dan penulis begitu berharap bahwa korupsi mestilah di jerujikan bukan hanya oknumnya mulai dari niatnya sudah harus di jerujikan agar perbuatan kesundalan ini jarang terdengar juga tak akan pernah terjadi.

Kamis, 11 Juni 2015

AGAMA CINTA



AGAMA CINTA
M’R



Di kala pohon khuldi memulai sejarah eksistensi makhluk predikat khalifah. Adam terusir kerena nikmat sebuah khuldi. Harmoni yang menyendiri terusik oleh permusuhan. Habil dan Qabil sebagai subjek manusia pertama yang mewarisi harmoni dan permusuhan. Meski permusuhan kala itu menang secara fisik. Namun Qabil kalah telak oleh eksistensi Habil.
Sibapak monotheisme Ibrahim datang pula menancapkan tawaf kehidupannya. Ismail hadiri dari kasih sayang Hajar. Sedangkan Ishak lahir dari kecemburuan dan kehormatan. Pertarungan antara Harmoni dan permusuhan kembali berlanjut.
Dibawan phon Bodhi. Seorang nabi Budha Sidharta Gautama menghadirkan dirinya. Melucuti setiap pernak pernik kekuasaannya. Mencoba mempersahabati segala permusuhan yang ada pada akunya. Memenuhi setiap nadi permusuhannya dengan syimphony harmoni yang indah.
Hadir pula pada kegelapan gua hira. Sebuah cahaya yang menerangi seluruh galaksi. Cahaya yang bernama Muhammad itu berhasil mengislamkan permusuhannya. Antara islam dan harmoninya menjadi agama cinta.
Alfarabi lalu mendera sebuah adagium. “ Agamaku adalah Agama cinta apapun agama itu selama ada cinta itulah agamaku.” Dengan agama cinta harmoni dan permusuhan menjadi cinta. Jika harmoni. Jika harmoni lebih kuat maka di penuhi cinta, jika hanya permusuhan maka cint sedang tidur. Bersama agama cinta kita mengahrmonikan eksistensi. Marilah kita beragama cinta bukan mencintai Agama.

Rabu, 10 Juni 2015

Tristan und Isolde




TRISTAN UND ISOLDE

Derai rambatan suara menusuk gendang telinga. Mengalir terus melelehkan alam cinta. Air mata mengalir ketika pintu esensi terungkap. Haru biru kisah cinta suci yang malang. Aku mencintainya, dia mencintaiku. Namun cinta kita terahasiakan dalam kotak misteri. Kita bercinta di ranjang siksa metafisik.
Dialah Tristan dan isolde. Dua manusia sepasang tapi tak pernah terpasang. Dua manusia yang saling mencintai tapi tak pernah bercinta secara fisik. Malang nasibnya hanya bisa merasakan apa yang dinamakan cinta sejati.
Dialah isolde seorang putri yang cantik. Putri dengan matanya yang sayu dan senyuman yang meluluhkan cinta. Dialah putri dari Irlandia. Kecantikannya mempesona seorang raja dari cornwall bernama Mark. Dengan takdir yang mengatur mereka lalu di jodohkan. Raja Mark yang berbunga hatinya lalu mengutus keponakan laki-lakinya yang tampan bernama Tristan.
Jalinan cinta terlarang pun terjalin. Tristan mencintai calon ratu bagi pamannya. Dan calon ratu itu juga mencintai Tristan. Mereka saling mencintai dalam kegelapan. Merahasiakan jalinan cintanya dibawah ketidaktahuan raja Mark. Namun apa daya karena ego dua negara yang terlnjur terikat dalam sebuah perjanjian. Putri Isolde tak dapat menolak pinangan raja Mark. Mereka menikah tanpa cinta. Meskipun putri Isolde telah menikah dengan raja Mark namun suami sesungguhnya adalah Tristan seorang.
Jalinan cinta terlarang itu ternyata keluar pada kebenaran. Raja Mark mengetahui cinta terlarang itu. Sang raja naik pitam. Namun setelah berpikir sehat. Dia memaafkan putri Isolde. Tapi tidak bagi keponakannya. Tristan harus dibuang dari kerajaan. Lalu dia berkelana tanpa arah. Karena tujuan kehidupannya ada pada kerajaan. Dialah putri Isolde. Tujuan hidupnya.
Namun dalam keadaan berkelana itu. Dia bertemu dengan wanita bernama Iseult yang berasal dari Britania. Wanita itu lalu mengingatkan Tristan pada gadis pujaannya Isolde. Tristan lalu menikahi Iseult yang dipandangnya adalah Isolde. Tristan begitu dimabuk candu cinta akan isolde sehingga dia mencintai iseult karena mencintai isolde. Menikahlah dia. Namun Tristan tak pernah menyentuh Iseult sepanjang hidupnya. Karena yang ingin disentuhny hanyalah seorang putri isolde. Iseult yang mencintai Trista merasakan kecemburuan atas cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
Diakhir hayatnya Tristan yang sekarat. Mengirimi surat cinta kepada Isolde. Yang isinya adalah “ jika kau memang mencintaiku wahai putri isolde maka datanglah kau menjengukku. Jika kau tak bisa karena larangan dari raja mark. Maka kirimilah aku kapal yang berwarna putih jika kau memang mencintaiku jika tidak maka kirimilah aku kapal hitam.”
Putri Isolde lalu membalasnya mengirimi Tristan sebuah kapal berwarna putih sebagai tanda cintanya pada Tristan. Namun yang sampai ditelinga Tristan adalah kapal berwarna hitam. Iseult yang berkata seperti itu karena kecemburuan yang sudah mencekamnya. Tristan lalu merasa tak lagi punya tujuan meneruskan hidup saat medengar kabar itu. Setelah pujaan hatinya tak lagi mencintainya. Maka matilah tujuannya. Tristan menutup mata dan pergi untuk selamanya. Dan setelah mendengar kepergian Tristan. Putri Isolde merasakan kesedihan yang menahun. Yang membuatnya sakit-sakitan. Matilah ia dengan kesedihan akan ditinggal oleh tristan.
Kisah yang menyedihkan. Kisah cinta Tristan und Isolde lewat wagner dia bersyimponhy mengenang kisah cinta yang tragis namun esensinya adalah kesucian cinta. Tristan pergi dengan kabar palsu namun cintanya tetap suci. Putri Isolde juga pergi dengan cintanya yang setia. Setidaknya jika cinta yang bersemi di bumi tak berbuah dibumi maka ia akan berbuah dilangit.

SI BUTA DARI GUA PLATO




Si Buta dari Gua Plato
M’R
Kalian pasti pernah mendengar akan mitos gua milik plato. Namun tanpa kesombongan aku berani bertaruh bahwa “si buta dari gua plato” lebih membumi dan lebih mempesona. Maka penulis menawarkan untuk membaca karya ini dengan imajinasi yang fokus. Silahkan.
Seorang buta memandangi setitik cahaya diujung dinding-dinding terjal. Cahaya itu berpancar lurus kearahnya. Membuatnya bertanya. Apakah cahaya itu?. Seumur hidupnya dia buta akan apa yang ada selain disekelilingnya yang gelap. Bersama warga lain sebutanya. Dia seumur hidup bergerak dalam kegelapan gua. Belakangan ini naluri dialektika menggoda dirinya ingin menuju pada tempat cahaya itu berujung. Namun rasa takutnya tak kalah mengganggu dirinya. Yang dia tahu bahwa selama kehidupannya yang gelap didalam gua ini telah membuat hidupnya berada pada garis aman dan kenyamanan. Dia bertarung dengan dirinya. Mencoba untuk mengambil kesimpulan tetap berdiri ditempat yang aman ini atau mencoba untuk out of the box menantang resiko.
Lama dia berpikir tak ada satupun kesimpulan yang berhasil ditariknya. Satu sisi membuatnya nyaman disatu sisi menggodanya untuk mencari tahu. Namun tetap saja dia tak bisa memilih salah satunya.
Setiap cahaya itu hilang dari ujung celah kecil gua itu membuat tanya yang bergerak di urat-urat otaknya menggebu. Apa yang membuat cahaya itu hilang?. Begitupun juga ketika cahaya itu kembali muncul dicelah kecil gua yang sangat gelap itu. Otaknya kembali berdialektika. Apa yang membuat cahaya itu kembali muncul.?. tanya yang ada dalam dirinya mengalami klimaks saat sesosok terbentuk dari cahaya itu. Sesosok bayangan terbentuk didinding gua yang dituju oleh cahaya itu. Bayangan itu dikira-kiranya. Disentuhnya tapi tak ada bentuk yang dirasanya. Hampa dan tidak memuaskan tanyanya yang menggeliat. Dia sangat kecewa saat bentuk bayangan itu menghilang. Meninggalkan secercah cahaya yang lurus mengarah padanya.
Lama lagi ia kembali berpikir. Apa yang harus dipilihnya. Haruskah ia terus terpaku pada kegelapan yang menyamankannya. Atau menuju pada secercah cahaya yang tidak memberikan kepastian. Dia lalu berucap pada teman- teman sehidupnya didalam gua. Yang sedang duduk membelakangi cahaya.
“wahai teman-teman sekalian aku harus menuju pada cahaya itu.?” Ucapnya sambil menunjuk kearah cahaya itu?
“apa kau ingin membunuh dirimu.? Pergilah kau jika kau memang sudah tak sayang lagi dengan dirimu. Mengapa kau ingin menuju pada cahaya itu padahal tempatmu sekarang ini memberimu kenyamanan dan keamanan?” ucap mereka bergantian mengeroyok niat aneh dari kawannya.
“ tidak, walaupun cahaya itu akan membunuh diriku. Aku lebih baik mati dari pada harus tersiksa oleh rasa tanya yang menggigit nuraniku?” ucapnya dengan pasti.
Saat itu pula dia membuktikan pada teman sehidupnya didalam gua itu. Dengan tangan kosongnya dia memanjat. Memegangi bebatauan yang sangat licin dan juga tak terlihat. Gua itu sangat gelap hanya ada setitik cahaya yang bisa masuk kedalam gua itu. Dan cahaya itulah yang ingin ditaklukan olehnya. Namuan karena bebatuan yang licin dtambah pengalaman yang nihil dalam memanjat tebing akhirnya membuatnya terjatuh pada bebatuan yang keras dibawahnya. Dia berteriak kesakitan. Ada rasa perih yang dirasakan ditelapak kakinya. dia kembali mencobanya namun sekali lagi bebatuan yang terjal membuatnya terjatuh lagi. Rasa perih yang dirasakannya semakin sakit. Tapi sekali lagi dia mencoba namun terjatuh lagi. Dia mencoba dan terjatuh lagi, dia mencoba lagi, lagi, lagi dan lagi namun terjatuh lagi, lagi, lagi dan lagi. Dia berteriak dengan keras karena rasa sakit yang semakin parah. Lalu salah seorang temannya berucap kepadanya.
“lebih baik kau hentikan saja semua itu. tak ada gunanya kau memanjat. Tidak ada apa-apa dibalik cahaya itu. Kehidupan itu hanya ada digua ini?”
Ucapan itu membuatnya pesimis. Namun keterlanjuran dirinya mengambil keputusan membuatnya bangkit dari pesimistis. Dia kembali mencobanya namun terjatuh lagi. Seharian dia terus mencoba hingga cahaya itu redup oleh malam. Membuat dirinya berhenti mencoba. Namuan tidak berhenti secara mutlak. Dia berjanji pada dirinya untuk mencobanya lagi saat cahaya itu kembali muncul. Didalam pikirannya dia menebak ada apa dibalik cahaya itu?. Siapa bayangan yang terbentuk dari cahaya itu.? Semalaman dia berpikir hingga cahaya itu kembali bersinar melewati celah gua.
Sekali lagi dia memanjat namun terjatuh lagi. Dia mencobanya lagi namun terjatuh lagi. Hampir tiga puluh kali cahaya itu hilang dan muncul. Dia belum juga berhasil. Batu pijakan yang licin dan dinding yang begitu terjal benar-benar menyulitkannya. Saat itu dia mulai berpikir untuk berhenti mencobanya. Dan bisikan dari sekitarnya untuk menghentikan kelakuan anehnya sudah mematahkan semangatnya. Sehari itu dia vakum dari pemanjatan tebing. Keesokan harinya cahaya itu muncul lagi. Dia bermaksud ingin mencobanya lagi namun semangatnya sudah patah. Dia terduduk dan membelakangi cahaya itu. Memandangi tembok datar yang dipancari oleh cahaya itu. Tiba tiba dari tembok itu bayangan yang pernah dilihatnya kembali muncul kali ini sangat jelas. Dia masih saja duduk dan berpikir bahwa apa yang dilihatnya itulah yang sebenarnya. Apa yang ada disekelilingnya itulah kehidupan. Tidak ada sesuatu dibalik cahaya itu. Namun sesuatu terdengar dari cahaya itu. Suara yang sangat keras dan membuat seisi gua itu terheran-heran. Dia yang dianggap aneh lalu berdiri dari duduk pesimisnya. dia dibuat terhentak oleh suara yang baru saja didengarnya. Dia begitu yakin bahwa bentuk yang sebenarnya dari bayangan yang dilihatnya dari tembok gua itulah yang menyebabkan suara keras itu. Dia lalu menelan semua persepsi awalnya lalu menuju pada persepi positif. Bahwa benar ada sesuatu dibalik cahaya itu. Dia berdiri lalu kembali memanjat tebing dengan semangat yang lebih membakar dari yang sebelumnya. Kali ini dia membulatkan tekadnya untuk tidak berhenti sebelum berhasil.
Namun ia mesti harus bersabar lagi. Dia kembali terjatuh. Dan rasa sakit yang dirasakannya sudah sangat menyiksa. Bukan hanya fisiknya yang tersiksa. Mental dirinya juga ikut merasakan sakit setelah teman sehidupnya didalam gua sudah menjauhinya dan mendiagnosanya sebagai seorang yang sudah gila.
Dia merasakan kelabilan. Dirinya dan dirinya yang lain bertempur dengan dirinya. Dirinya yang lain mengatakan untuk berhenti saja. dirinya yang lain mengatakan untuk terus mencoba. Dan dirinya yang lain merasakan kebingungan untuk mendengarkan yang mana. Dia sangat tersiksa secara fisik dan batin, namun dalam keadaan tersiksa itu dia terus mencoba untuk memanjat. Terakhir kali dia sudah hampir menyentuh tempat  cahaya itu memancar namun dia kembali terjatuh. Dan sakit akibat terjatuh itu semakin memuncak. Karena semakin tinggi ia memanjat semakin parah rasa sakit yang dirasakannya. Sambil menahan rasa sakitnya dia kembali mencoba.
Dan dia berhasil. Kali ini dia berhasil menyentuh tempat cahaya itu memasuki gua. Sambil bergelantungan dia mengeluarkan tangannya melewati celah seukuran kepalanya. Dia merasakan angin berhembus lembut menyapa tangannya. Nyaman yang lebih nyaman dari selama ini yang pertama kali dirasakannya. Dia kembali memasukkan tangannya lalu memegangi dinding gua kuat kuat. Kali ini dia berusaha membuat kepalanya dapat melewati celah kecil itu. Dia ingin mengetahui apa yang ada dibalik lubang cahaya itu. Pelan- pelan dia mengeluarkan kepalanya. Tangannya berpegangan kuat pada pegangan yang dapat dipegangnya. Dia amat takut mengalami kegagalan pada keberhasilan yang sudah didepan mata. Setengah kepalanya sudah meyembul keluar dari lubang itu. Kini mata yang dia pakai untuk melihat dan semua kepalanya hingga leher berhasil menyembul keluar dari lubang cahaya itu. Matanya masih tertutup dan pelan pelan dia membukanya. Saat mata itu terbuka semua cahaya menyambutnya. Hingga mata miliknya menyipit karena merasakan kesilauan yang luar biasa. Namun rabun-rabun muncullah berbagai warna dilihatnya. Hijau, biru dan putih warna itu jelas sudah terlihat. Hijau adalah warna pepohonan yang mendominasi penglihatannya. Biru adalah warna laut. Dan putih adalah warna awan. Namun apa itu pohon?. Apa itu laut?. Dan apa itu awan?. Jelas belum diketahuinya. Wajahnya yang dipenuhi bulu. Kotor dan tidak terawat menunjukan senyuman yang luar bisa menyenangkan. Apa yang selama ini diimpikannya telah tercapai. Tiba- tiba seekor burung elang bersuara keras. Dan dia berkata.
“ ternyata itulah bayangan yang pernah kulihat dari tembok gua.?” Lalu dia tersenyum tapi beberapa detik kemudian wajahnya murung. Dia sadar bahwa kehidupan yang sebenarnya ada dibalik gua ini. Namuan dia sadar bahwa dia masih terperangkap didalam gua. Dan dengan celah kecil ini dia tak mungkin keluar dari dalam gua. Meskipun kepalanya sudah bisa dikeluarkannya. Namun kepuasan belum dirasakannya. Dia ingin membawa seluruh tubuhnya keluar dari dalam gua. Dengan setengah tersenyum juga setengah kecewa dia menurunkan kepalanya. Lalu turun dari tebing gua. Didaratan gua itu dia lalu berteriak.
“teman-temanku sekalian aku telah berhasil meraih cahaya itu. Dan tempat yang begitu luas ada dibalik cahaya itu. Dan teman-teman sekalian disanalah tempat kita. Dan marilah kita sama-sama saling membantu untuk bisa keluar dari dalam gua ini.”
Tiga kali dia mengulang perkataanya. Namun tak ada jawaban. Ada satu jawaban namun jawaban itu sangat mengecewakannya.
“pergilah kau sendiri wahai orang gila. Kami sudah sangat nyaman ditempat ini. Jika kau ingin mati. Kau jangan mengajak kami. Dasar gila.”
Dia lalu berpikir keras bagaimana caranya untuk bisa mengeluarkan dirinya dari dalam gua itu. Tanpa bantuan teman-temannya dia akan sangat kesulitan. Namun godaan keindahan dari yang baru saja disaksikannya membuatnya mengambil cara yang sangat sederhana namun butuh waktu yang sangat panjang untuk meraih keberhasilan. Batu memukul batu. Pasti akan ada yang pecah. Itulah yang akan dilakukannya. Memukul ujung batu dari celah kecil itu agar semakin membesar biar tubuhnya dapat mendapatkan ruang untuk keluar dari dalam gua itu.
Dengan hanya bermodalkan batuan yang sebesar tinjunya dan batuan yang dipukulnya setebal dua jengkal. Celah itu hanya terkikis 5cm dan itu membutuhkan setahun lamanya. Setiap waktu dia begitu disiplin memanjat dan memukul tebing. Namun karena keributan yang dibuatnya saat memukul tebing dia mendapatkan protes dari warga gua sekitarnya. Namun dia tidak berhenti memukul tebing. Semakin keras dia memukul tebing. semakin keras pula protes yang menghampirinya. Namun ia kembali memukul tebing. Dan protes dari warga sekitar kini berubah dengan pukulan yang mendarat diwajahnya saat ia turun dari tebing. Wajahnya babak belur oleh pukulan dari orang sekitarnya. Namun keindahan dari balik cahaya itu sudah membuatnya lupa dengan sekitarnya menyembuhkan rasa sakit dari pukulan mereka. Dia kembali memukul tebing itu. Dan suara keras saat batu itu bersentuhan kembali membuat warga sekitar mendatanginya. Kali ini bukan pukulan yang mendarat di wajahya. Saat masih berada diatas tebing dia dilempari batu. Ada puluhan batu yang berhasil mengenainya. Satu buah batu mengenai kepalanya hingga mengucurkan darah yang cukup banyak. karena darah yang mengucur terlalu banyak ia kehilangan kesadaran dan terjatuh dari atas tebing. Untung saja kepalanya tak mendarat dibebatuan keras tapi pada seonggok pasir berhasil menyelamatkan hidupnya.
Dia kehilangan kesadaran dan dianggap sudah mati oleh warga sekitar. Namun dia belum mati. Dia hanya tak sadarkan diri. dari balik kesadaran diri yang belum didapatnya dia bermimpi. Memimpikan sesuatu yang belum pernah diimpikannya sebelum ini. Dia berlari di rumput savana bersama kelompok zebra. Dia berenang dilautan yang luas bersama lumba-lumba. Dan dia dibawa terbang oleh ribuan elang.
 Lama ia menikmati mimpinya hingga ia tersadar setelah tiga hari tiga malam. Dia merasakan kepalanya yang begitu berat untuk diangkat. Rabun-rabun dia melihat celah cahaya itu sudah semakin lebar. Dia merasakan bahwa apa yang dilakukannya tidaklah sia-sia. Ada hasil yang didapatkannya. Namun ancaman dari warga sekitar membuatnya terhalang. Kali ini dia mendapat rintangan dari sejenisnya yang sudah menganggapnya sebagai pengganggu.
Tidak, tidak ada kata untuk berhenti. Kalaupun dia harus mati. Dia ingin mati pada jalan yang sudah dipilihnya. Haram baginya untuk mati pada jalan yang bukan jalannya. Tapi dia sadar pula jika ia mati sebelum menikmati keindahan dari balik cahaya itu maka matinya juga akan sia-sia. Dia harus berpikir lagi. Bagaimana caranya bisa keluar tanpa harus mengancam dirinya.
Lalu dia sadar. Gua ini beruang maka dimanapaun ia menggagali itu akan membawanya keluar dari gua. Dan dia memilih menggali dari tempat dimana sesorangpun tak bisa mendengar suara galiannya. Tapi itu tak berhasil karena dimanapun dia mencobanya suara yang bergema berhasil didengar oleh semua yang mendengar dari dalam gua ini. Dia kembali berpikir lagi namun pikirannya buntuh. Tidak ada cara lain lagi kecuali melanjutkan usaha yang sudah setengah jalan. Tapi kali ini dia mendatangi warga yang memusuhinya. Dia sadar kalau warga akan mengoceh kepadanya dan tidak meutup kemungkinan mereka akan membunuhnya.
“ternyata kau masih hidup wahai orang gila?” ucap salah seorang warga.
“maafkan aku karena telah mengganggu kalian. Tapi aku harus keluar dari tempat ini.”
“ kau memang sudah gila. Dan jangan kegilaanmu membuat kami juga ikut gila karena usaha gilamu itu.?”
“aku ingin membuat perjanjian dengan kalian”
“perjanjian apa?”
“aku akan memukul tebing itu lagi. Dan saya meminta kelonggaran dari kalian?”
“jika kau mencoba memukul tebing itu lagi maka kau akan kami bunuh”
“aku harus memukulnya. Tapi kali ini aku hanya akan memukulnya sebanyak 17 kali sehari semalam. 2 sebelum cahaya itu muncul. 4 disaat cahaya itu sangat terang. 4 disaat cahaya itu mulai meredup. 3 saat cahaya itu akan menghilang dan 4 disaat cahaya itu sudah menghilang.”
Para warga itu berpikir sejenak. Dan kemudian berkata.
“tidak kami tidak akan memberimu kesempatan. Jika kau berani mencoba untuk memukul tebing itu. Maka kami tak akan segan-segan membunuhmu”
Dia tidak takut mati. Dia hanya takut mati sebelum merasakan keindahan yang di impikannya. Dia mengambil kesimpulan. Kalaupun aku harus mati. Biarlah aku mati tanpa mencapai keindahan itu. Walaupun mereka memaksaku untuk memikul matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku aku tidak akan pernah berhenti untuk berusaha. Kalau pun aku harus mati tanpa meraih keindahan itu. Aku ikhlas mati pada keadaan mencintai keindahan. Aku rela mati sebagi seorang pecinta keindahan.
Dengan tekadnya yang sudah membulat sempurna. Keras dan kokoh. Dia mengambil batu besar dan memegangnya pada tangan kanannya. Lalu dia berjalan lambat menuju pinggir tebing. Lalu dia disana dia berteriak sekencang-kencangnya.
“ aku rela mati sebagai pecinta keindahan. Aku rela mati pada kehidupan yang sulit tapi pada jalan yang benar dari pada harus hidup nyaman pada jalan yang sesat. Kukatakan kepada kalian bahwa keindahan yang sebenarnya ada dibalik cahaya itu” dia berucap dengan keras sangat keras. Hingga suara kerasnya itu bergema sangat lama dan terpantul pada dinding gua. Warga sekitar yang mendengarnya menutup telinganya karena suara itu sangatlah keras.
Suara itu masih saja bergema. Dia dengan berbagai bekas luka dibadannya. Dan luka yang belum kering dikepalanya. Mulai memanjat tebing. Tidak cukup susah dia memulainya. Karena sudah terlalu sering dia menaklukkan tebing terjal itu. Tebing seukuran 90 derajat. Namun dipertengahan jalan. Suara yang jahat terdengar olehnya.
“bunuh dia. Dia adalah manusia pendosa dan pengganggu. Mulutnya terlalu kotor untuk dibiarkan. Lempar dia sampai mati” ucap seorang yang begitu marah.
“ yah lempar dia. Pungut semua batu. Dan lemparkan kepadanya.” Ucap orang yang lain.
“yaaaaaah” ucap mereka serentak.
Dia sadar bahwa nyawanya terancam. Tapi dia tersenyum. Dia sadar kalaupun mereka tak mengikuti perkataannya ada saatnya dimana orang yang datang belakangan akan sadar dengan apa yang dikatakannya.
Puluhan batu sudah melayang kearahnya. Dan semuanya berhasil mengenainya. Sebagaian besar mengaraha kepunggungya. Dia tentu saja merasakan sakit yang luar biasa. Namun dia tersenyum saja kearah cahaya yang didekatinya. Sebuah batu mengenai lagi kepalanya. Dia tersentak kesakitan. Orang yang mengenainya tertawa lepas. Begitu dengan yang lain. Mereka tertawa pada kebenaran yang dilemparinya. Dia terusa saja memanjat. Nafasnya sudah tak teratur. Sangat berat dia bernafas. Namun ia berhasil mendekati cahaya itu dan menyembulkan kepalanya dia celah yang sudah dilebarkannya. Namun tak cukup lebar untuk meloloskan semua fisiknya. Walhasil dirinya yang terperangkap didalam gua menjadi bulan bulanan warga. Menjadi tempat mendarat bebatauan yang dilemparkan kearahnya. Makin kejam saja perlakuan warga gua yang buta kepadanya.
“ wahai keindahan aku mencintaimu, namun aku hanya bisa mencintaimu. Menjadi pecinta padamu akupun rela. Dan terima kasih kepadamu karena kau telah memberikanku jalan yang seindah ini.” Dia berucap dengan sangat berat dan terbatah-batah. Bisa jadi itulah ucapannya yang terakhir. Itu pulalah terakhir kalinya dia memandangi hijau, biru dan putih dan mendengar suara elang yang memekakkan telinga untuk yang terakhir kalinya.
Hampir sesore dia bertahan dari rasa sakit. warga sekitar sudah menghentikan lemparannya. Karena yang dilempari sudah tak bergerak lagi. Dia sudah terjatuh kembali kedalam gua. Kali ini dia tidak bisa bertahan lagi. Dia telah mati. Tubuhnya terlihat membusuk dan dibiarkan begitu saja. tidak ada yang mau mengurusi tubuhnya yang sudah penuh dengan darah. Apakah ini akhir baginya.
Jawaban yang paling tepat adalah tidak. Bahkan dia baru saja memulai kehidupan yang ideal baginya. Kehidupan yang diinginkannya.
Saudara sekalian. Ada banyak hikmah dan personifikasi yang dapat diambil dari cerita ini. Tergantung dari siapa yang mengkonsumsinya. terlihat penulis hanya menawarkan secangkir teh. Padahal penulis menawarkan jus buah-buahan.